Perjalanan dimulai ketika aku melangkahkan kaki di sebuah taman yang indah, di sebuah kaki gunung. Aku melangkah mengikuti arus angin, yang membisikan sebuah takdir, seakan bercerita padaku. Yaaa, mungkin hanya imajinasiku saja, tapi dia menenangkan ku ketika aku mulai terjatuh. Terjatuh, tak kuasa menahan pedihnya kenyataan, hingga sebenarnya aku lupa bagaimana rasa pedih, bagaimana rasa sakit, bagaimana rasanya memulai semua dari awal tanpa ada yang membantu ku berdiri ketika aku terjatuh.
Mengingatkanku pada dirinya, seorang peri kecil yang sempat hinggap di tanganku. Dan, seketika peri itu menyembuhkan luka lama ku, yang kurasa tidak akan pernah sembuh. Aku pun merasakan betapa indahnya kepakan sayap peri itu, melihat senyum lugunya, dan aku pun sempat menenangkan tangisnya. Baru pertama kali aku pernah merasakan indahnya bahagia, senang, tertawa, ketika sedang bersama peri kecil itu. Lantunan melodi terdengar mengayunkan langkahku untuk ingin selalu bersamanya.
Dahulu kala, aku tak pernah percaya akan cinta dan kasih sayang, karena kurasa itu tak pernah ada, itu adalah hal yang mustahil aku dapat dan aku rasa. Seketika peri itu hinggap aku mulai mempercayainya, dan mulai belajar untuk melakukannya.
Tapi kini peri itu pergi, hinggap di pundak seseorang yang tidak aku kenal, seseorang yang jauh lebih baik dariku. Kini ku kembali ke sudut pandang lama ku, bahwa kasih sayang dan cinta itu memang tidak ada, hanya untukku tidak ada. Seketika luka lama ku terbuka kembali, dan menyisakan luka yang lebih dalam, lebih sakit, lebih perih. Kuamati peri itu pun menghabiskan senyum dan tawanya bersama orang itu diluar sana. Menyembuhkan lukanya, dan terbang pergi bersamanya.
Kini kuamati taman bunga edelweiss di kaki gunung, ku terbaring di rumput hijau dan mengamati indahnya langit biru dan awan putih. Sungguh hari yang cerah, hari yang indah. Aku tarik nafas dalam dalam, dan mengeluarkan nafas panjang. Ingin ku hembuskan masalah yang menghadapiku, kehilangan satu-satunya harapan untuk menyembuhkan luka ku, menghangatkanku, tempatku bersandar dan bercerita. Semua ternyata hanya sesebentar ini, tidak abadi seperti bunga edelweiss disamping kepalaku yang sedang bersandar, yang mekar sepanjang hidupnya, mewangi dan mendominasi taman yang ada di kaki gunung ini. Mahkota indahnya beranalogikan putih yang suci, dan membersihkan luka hingga sembuh. Kulihat peri itu hinggap di bunga edelweiss, dan melambaikan tangannya mengucapkan perpisahan.
Yaaa, ternyata kasih hati peri itu abadi bagai edelweiss, tapi mungkin bukan untukku. Aku ingin kembali pulang dari taman ini, kembali ke habitatku, sudut gelap kamar. Merenung bahwa aku tak akan pernah bisa memetik sesuatu yang abadi bagai edelweiss. Kini bertambah luka baru ketika lebah menyengat dan terbang pergi. Mirip seperti peri kecilku, terbang pergi jauh bersamanya entah kemana. Meninggalkan luka bekas harap dan asa. memutuskan logika dan menggelapkan mata. Aku ingin percaya lagi harapan, tapi aku buta. Walau gelap malam mulai datang dan lampu taman mulai bersinar, aku tetap tak bisa temukan jalan pulangku.
Aku ingin peri kecilku kembali, menghapus luka dan menyinarkan cahaya mata indahnya. Aku terbelalak sesekali ketika menyadari bahwa itu hanya sementara. Kantung mataku mulai penuh, menghambat keluarnya air mata yang merindukan bahagia. Aku ingin dewasa dan aku ingin kuat, tapi aku tak sanggup berdiri ketika aku terjatuh seperti ini. Sesekali kututup mataku, dan berdoa semoga dia bisa kembali.