11pm
jam jam dimana mood gw lagi bagus bgt buat bikin lirik
yaaaah lumayan lah buat sideproject'an gw ALIENS KINDS
setelah lumayan nganggur dengan Broken Serenade yang lagi vakum
gw bru buat 4 lirik buat Aliens Kinds:
Its Time to Break Up
A Letter For Nisa
Rekayasa Obsesi
Aliens Original Soundtrack
and now what I am currently writting is
Farewell, Fireworks
"Farewell, Fireworks" terinspirasi dari blog gw yg judulnya "short story to say goodbye", nyeritain tentang kembang api yang ngingetin kejadian di tahun baru
oia, Aliens Kinds punya lagu yg liriknya dibikin sama Dandi Holiday Room, judulnya "Selebrasi"
Selebrasi sama Its Time to Break Up uda sekitar 75% beres, tinggal synth nya blom dapet
anjirrr itu tanggung jawab gw, aaarrrrgggghhh
yah gw jg sbenernya uda ga sabar pengen bikin demo nihh
duh, Broken Serenade kapan ya mulai jalan lagi?
Senin, 28 September 2009
Kamis, 24 September 2009
Short Story To Say Goodbye
Its a strange rainy night
because I see a fireworks now
this strange things makes me to writes my strange story
2 weeks from now on, maybe I won't see your eyes anymore
maybe there's no more conversation
and there's no more see you open the doors
this distance separated me to know you much more
its nice to know you
its a wonderful three month
its just like I see a morning first light in your eyes and I hear a beautiful morning bell in your laugh
its really remind me of something, remind me of 2005 new year's eve
remind me about a story called "Hope of Nothing"
remind me about a rope of hope inside my mind
yeah, this distance will separated me from you
yeah, maybe this is our last direct conversation
but I hope it won't
I thought I'm in love with you
but I won't regret it
not only your cold heartbeat said no but also I'm always nervous and shy if I near you
its too dark to see a hope
yeah, this is goodbye
a short story to say goodbye
because I see a fireworks now
this strange things makes me to writes my strange story
2 weeks from now on, maybe I won't see your eyes anymore
maybe there's no more conversation
and there's no more see you open the doors
this distance separated me to know you much more
its nice to know you
its a wonderful three month
its just like I see a morning first light in your eyes and I hear a beautiful morning bell in your laugh
its really remind me of something, remind me of 2005 new year's eve
remind me about a story called "Hope of Nothing"
remind me about a rope of hope inside my mind
yeah, this distance will separated me from you
yeah, maybe this is our last direct conversation
but I hope it won't
I thought I'm in love with you
but I won't regret it
not only your cold heartbeat said no but also I'm always nervous and shy if I near you
its too dark to see a hope
yeah, this is goodbye
a short story to say goodbye
Senin, 07 September 2009
Emotionless
hmmm, I think I'm in the bad mood..
what I try to say is always wrong
bad saying, again and again
misunderstanding, again and again
what the hell is happen to me?
I feel emotionless now
its seems like yesterday when I was fallen from the rope of hope
yeaah, I haven't any hope now
I don't have yet
its just like I must move on from my past
I just regretting my past now
but I must move on
something missing in my mind
I don't have something any better
I'm always in jealousy
what the fuck,
what should I do?
I don't even understand myself
Living lie
always lie
I always says "Yeah, I'm fine"
yeah, I'm a liar
please someone makes me learn to understand myself
I don't even have someone to share
always ended like this
what I try to say is always wrong
bad saying, again and again
misunderstanding, again and again
what the hell is happen to me?
I feel emotionless now
its seems like yesterday when I was fallen from the rope of hope
yeaah, I haven't any hope now
I don't have yet
its just like I must move on from my past
I just regretting my past now
but I must move on
something missing in my mind
I don't have something any better
I'm always in jealousy
what the fuck,
what should I do?
I don't even understand myself
Living lie
always lie
I always says "Yeah, I'm fine"
yeah, I'm a liar
please someone makes me learn to understand myself
I don't even have someone to share
always ended like this
Kamis, 03 September 2009
Taman

Saat ini, aku sedang duduk di bangku taman yang indah. Menikmati sunyi dan bisikan dedaunan yang menyambut dengan baiknya. Seakan mereka menyambut kedatanganku, dedaunan kering pun berguguran seperti hendak menyapaku. Ya, hati ku pun juga gugur sepertimu wahai dedaunan. Mulutku pun seakan membisu seperti pepohonan, dan mataku pun hanya bisa menjadi saksi akan ingatan yang telah lalu bagai bangku taman yang setia mendengarkan keluh kesah orang yang mendudukinya.
Taman ini jadi mengingatkanku pada seseorang yang sangat berharga bagiku. Tapi belakangan ini aku sudah jarang bertemu dengannya. Mungkin, hubungan yang tidak lebih dari “teman biasa” ini yang membatasi waktu untuk bisa bertemu dengannya. Ya, Aku merindukan bisa bercengkrama dengannya. Aku merindukan bisa tertawa bersamanya. Walaupun dia bukan milikku, tapi aku ingin bisa menjaganya. Sudah lama aku tak melihat senyum manisnya menyapa diriku. Empat tahun telah berlalu, tapi tak ada satu pun yang berubah. Aku pun masih menyayanginya. Masih ada dalam benakku kalimat yang selalu terucap di pagi hari ketika matahari baru membuka matanya, “Ya Tuhan, tolong lembutkan hatinya untuk bisa menyayangiku” yang mungkin bagi kebanyakan orang, kalimat itu hanya sebuah lelucon yang tidak pantas untuk diucapkan.
Ya, aku sebenarnya masih mengharapkannya. Harapan yang sebenarnya tidak boleh ada. Harapan yang selalu hidup dan bisa tumbuh seperti rumput liar yang selalu mencoba untuk bertahan hidup walaupun diinjak dan diremehkan, seperti halnya harapanku yang selalu diinjak dan hanya dipandang sebelah mata.
Yang kuingin sekarang adalah aku ingin menjadi orang yang tegar, seperti sebuah pohon yang berdiri tegak dihadapanku, berdiri tegak dengan angkuhnya walaupun angin besar berkali-kali hampir merobohkannya. Aku juga ingin menjadi lebih sabar, seperti seorang kakek loper koran yang kini duduk di sebelahku, menahan lapar dan gerah karena bajunya yang sudah tak layak sambil sesekali mengusap keningnnya yang bercucuran keringat. Dia tertunduk kebawah, melihat sepatu usangnya dan tersenyum seakan mengucapkan terima kasih pada sepatu usangnya itu yang telah setia menemaninya melangkah mencari uang untuk memberi sesuap nasi pada anaknya.
Namun aku tak ingin harapanku meredup, seperti lampu taman dibelakangku yang enggan memancarkan sinar terangnya, padahal sinarnya akan menerangi jalan setapak di hadapanku sepanjang taman ini layaknya garis kehidupan.
Terima kasih taman, kau telah mewakili kisah hidupku…
Taman ini jadi mengingatkanku pada seseorang yang sangat berharga bagiku. Tapi belakangan ini aku sudah jarang bertemu dengannya. Mungkin, hubungan yang tidak lebih dari “teman biasa” ini yang membatasi waktu untuk bisa bertemu dengannya. Ya, Aku merindukan bisa bercengkrama dengannya. Aku merindukan bisa tertawa bersamanya. Walaupun dia bukan milikku, tapi aku ingin bisa menjaganya. Sudah lama aku tak melihat senyum manisnya menyapa diriku. Empat tahun telah berlalu, tapi tak ada satu pun yang berubah. Aku pun masih menyayanginya. Masih ada dalam benakku kalimat yang selalu terucap di pagi hari ketika matahari baru membuka matanya, “Ya Tuhan, tolong lembutkan hatinya untuk bisa menyayangiku” yang mungkin bagi kebanyakan orang, kalimat itu hanya sebuah lelucon yang tidak pantas untuk diucapkan.
Ya, aku sebenarnya masih mengharapkannya. Harapan yang sebenarnya tidak boleh ada. Harapan yang selalu hidup dan bisa tumbuh seperti rumput liar yang selalu mencoba untuk bertahan hidup walaupun diinjak dan diremehkan, seperti halnya harapanku yang selalu diinjak dan hanya dipandang sebelah mata.
Yang kuingin sekarang adalah aku ingin menjadi orang yang tegar, seperti sebuah pohon yang berdiri tegak dihadapanku, berdiri tegak dengan angkuhnya walaupun angin besar berkali-kali hampir merobohkannya. Aku juga ingin menjadi lebih sabar, seperti seorang kakek loper koran yang kini duduk di sebelahku, menahan lapar dan gerah karena bajunya yang sudah tak layak sambil sesekali mengusap keningnnya yang bercucuran keringat. Dia tertunduk kebawah, melihat sepatu usangnya dan tersenyum seakan mengucapkan terima kasih pada sepatu usangnya itu yang telah setia menemaninya melangkah mencari uang untuk memberi sesuap nasi pada anaknya.
Namun aku tak ingin harapanku meredup, seperti lampu taman dibelakangku yang enggan memancarkan sinar terangnya, padahal sinarnya akan menerangi jalan setapak di hadapanku sepanjang taman ini layaknya garis kehidupan.
Terima kasih taman, kau telah mewakili kisah hidupku…
by: Nde79
Langganan:
Postingan (Atom)