Cerita ini berawal dari kisah hidupku yang mulai egois melangkah. Semua ini karena sesak deritaku yang tak terkendali. Semua seakan mati rasa. Aku tak bisa bedakan bahagia dan derita. Menyesak menusuk, tapi tak terasa menyakitkan lagi karena mungkin aku sudah terbiasa. Mungkin memang, aku mulai melangkah sedikit demi sedikit melupakan masa laluku yang sangat pahit, walaupun keadaan kini sebenarnya sama pahitnya. Yang kurasa kini hanya hampa. Tetap stagnasi, membuatku kini berpijak di tempat yang sama dengan tempatku berdiri dulu.
Aku iri
Aku menyesal
Aku mengaku kalah
Ya, aku iri. Semua orang disekelilingku memiliki mataharinya sendiri. Matahari yang selalu menerangkan isi hatinya, menenangkan gundahnya, menuntun jalan hidupnya, dan berjuang bersamanya. Semua peluh, kesal, lelah, dapat dicurahkan dan dijadikan motivasi harapan.
Ya, aku menyesal. Semua mimpiku selalu sia-sia. Tidak seperti orang disekelilingku yang selalu mendapatkan mimpi dan angannya walaupun butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan mimpi itu. Sedangkan aku, aku jauh lebih lama memiliki mimpi, tapi mimpi itu tak kunjung tiba. Kini ku hanya mendapatkan iba. Aku memang sebuah kartu mati bagi orang lain.
Ya, aku mengaku kalah. Aku tak sanggup lagi menahan ini sendiri.
Sesak...
Rapuh...
Memudar...
Letih...
Mati rasa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar