
Saat ini, aku sedang duduk di bangku taman yang indah. Menikmati sunyi dan bisikan dedaunan yang menyambut dengan baiknya. Seakan mereka menyambut kedatanganku, dedaunan kering pun berguguran seperti hendak menyapaku. Ya, hati ku pun juga gugur sepertimu wahai dedaunan. Mulutku pun seakan membisu seperti pepohonan, dan mataku pun hanya bisa menjadi saksi akan ingatan yang telah lalu bagai bangku taman yang setia mendengarkan keluh kesah orang yang mendudukinya.
Taman ini jadi mengingatkanku pada seseorang yang sangat berharga bagiku. Tapi belakangan ini aku sudah jarang bertemu dengannya. Mungkin, hubungan yang tidak lebih dari “teman biasa” ini yang membatasi waktu untuk bisa bertemu dengannya. Ya, Aku merindukan bisa bercengkrama dengannya. Aku merindukan bisa tertawa bersamanya. Walaupun dia bukan milikku, tapi aku ingin bisa menjaganya. Sudah lama aku tak melihat senyum manisnya menyapa diriku. Empat tahun telah berlalu, tapi tak ada satu pun yang berubah. Aku pun masih menyayanginya. Masih ada dalam benakku kalimat yang selalu terucap di pagi hari ketika matahari baru membuka matanya, “Ya Tuhan, tolong lembutkan hatinya untuk bisa menyayangiku” yang mungkin bagi kebanyakan orang, kalimat itu hanya sebuah lelucon yang tidak pantas untuk diucapkan.
Ya, aku sebenarnya masih mengharapkannya. Harapan yang sebenarnya tidak boleh ada. Harapan yang selalu hidup dan bisa tumbuh seperti rumput liar yang selalu mencoba untuk bertahan hidup walaupun diinjak dan diremehkan, seperti halnya harapanku yang selalu diinjak dan hanya dipandang sebelah mata.
Yang kuingin sekarang adalah aku ingin menjadi orang yang tegar, seperti sebuah pohon yang berdiri tegak dihadapanku, berdiri tegak dengan angkuhnya walaupun angin besar berkali-kali hampir merobohkannya. Aku juga ingin menjadi lebih sabar, seperti seorang kakek loper koran yang kini duduk di sebelahku, menahan lapar dan gerah karena bajunya yang sudah tak layak sambil sesekali mengusap keningnnya yang bercucuran keringat. Dia tertunduk kebawah, melihat sepatu usangnya dan tersenyum seakan mengucapkan terima kasih pada sepatu usangnya itu yang telah setia menemaninya melangkah mencari uang untuk memberi sesuap nasi pada anaknya.
Namun aku tak ingin harapanku meredup, seperti lampu taman dibelakangku yang enggan memancarkan sinar terangnya, padahal sinarnya akan menerangi jalan setapak di hadapanku sepanjang taman ini layaknya garis kehidupan.
Terima kasih taman, kau telah mewakili kisah hidupku…
Taman ini jadi mengingatkanku pada seseorang yang sangat berharga bagiku. Tapi belakangan ini aku sudah jarang bertemu dengannya. Mungkin, hubungan yang tidak lebih dari “teman biasa” ini yang membatasi waktu untuk bisa bertemu dengannya. Ya, Aku merindukan bisa bercengkrama dengannya. Aku merindukan bisa tertawa bersamanya. Walaupun dia bukan milikku, tapi aku ingin bisa menjaganya. Sudah lama aku tak melihat senyum manisnya menyapa diriku. Empat tahun telah berlalu, tapi tak ada satu pun yang berubah. Aku pun masih menyayanginya. Masih ada dalam benakku kalimat yang selalu terucap di pagi hari ketika matahari baru membuka matanya, “Ya Tuhan, tolong lembutkan hatinya untuk bisa menyayangiku” yang mungkin bagi kebanyakan orang, kalimat itu hanya sebuah lelucon yang tidak pantas untuk diucapkan.
Ya, aku sebenarnya masih mengharapkannya. Harapan yang sebenarnya tidak boleh ada. Harapan yang selalu hidup dan bisa tumbuh seperti rumput liar yang selalu mencoba untuk bertahan hidup walaupun diinjak dan diremehkan, seperti halnya harapanku yang selalu diinjak dan hanya dipandang sebelah mata.
Yang kuingin sekarang adalah aku ingin menjadi orang yang tegar, seperti sebuah pohon yang berdiri tegak dihadapanku, berdiri tegak dengan angkuhnya walaupun angin besar berkali-kali hampir merobohkannya. Aku juga ingin menjadi lebih sabar, seperti seorang kakek loper koran yang kini duduk di sebelahku, menahan lapar dan gerah karena bajunya yang sudah tak layak sambil sesekali mengusap keningnnya yang bercucuran keringat. Dia tertunduk kebawah, melihat sepatu usangnya dan tersenyum seakan mengucapkan terima kasih pada sepatu usangnya itu yang telah setia menemaninya melangkah mencari uang untuk memberi sesuap nasi pada anaknya.
Namun aku tak ingin harapanku meredup, seperti lampu taman dibelakangku yang enggan memancarkan sinar terangnya, padahal sinarnya akan menerangi jalan setapak di hadapanku sepanjang taman ini layaknya garis kehidupan.
Terima kasih taman, kau telah mewakili kisah hidupku…
by: Nde79
Tidak ada komentar:
Posting Komentar