Kamis, 03 Juni 2010

Embun

Pagi mulai berdetak. Semu gelap mulai beranjak Entah mengapa mataku tiba-tiba terfokus pada titik embun pagi yang mulai menetes.

Kupijak rumput hijau, seakan saling menyapa dan saling bercerita, dan tak lama setelahnya aku pun mulai berbaring. Seketika air mataku menetes, tapi kuanggap hanyalah embun pagi.

Tak kusangka indah mentari pagi tak seindah hidupku. Penuh beban, noda, dan keluh kesah. Seakan seperti embun yang menetes tiada henti, air mataku pun bercucuran menyeruak dan mulai menggenang.

Ya, itu adalah genangan cerita pahit yang kualami sendiri. Seakan kepik merah pun tak iba melihatku, mereka berterbangan lalu lalang dengan indahnya menikmati indahnya pagi.

Mentari mulai naik, memancarkan cahaya jingganya, tetapi semakin terisak aku melihatnya. Sisi kelam yang mulai membunuh sukmaku, karena tak kunjung padam putus asaku.

Kepalaku mulai membeku. Nafasku pun mulai tidak teratur. Memori mati tentang kesendirian tak kunjung hilang. Tak kuasa aku bendung air mata, tak ada pundak yang bisa aku jadikan sandaran. Sandaran beban, asa, dan rasa ingin berbagi cerita. Rumput dan dedaunan mulai bergoyang tertiup angin, seakan  membelai mengusap air mata.

Menghibur diri sambil tersenyum hampa, mungkin hanya itu yang bisa ku lakukan. Seakan musim panas ini akan berakhir begitu saja, tanpa ada pijakan rangkulan yang membuat hidupku secerah terik mentari di siang hari.

Gelap dan buta, mungkin itu yang  melukiskan isi hatiku.


"Ya Tuhan, semoga pagi esok genangan air mata itu sudah tiada..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar